Friday, April 8, 2011

strangers but familiar

Hampir setiap hari, Senin sampai Jumat kira-kira jam 8.30 pagi adalah jam berangkat kantor saya. Dan pada jam segitu, hari-hari itu, ada juga orang-orang yang sedang melakukan their daily routine, just like me. Ga sadar, hampir setiap hari ketemu, saya jadi familiar dengan mereka, dan rasanya, begitu juga mereka terhadap saya, hehe. They are strangers, but familiar for me. Actually their smiles, I used to see those smiles almost everyday. Dan hal itu merupakan hal yang menarik buat saya. We share smiles each other, melempar senyum, seakan-akan sudah saling kenal. Dan jika di suatu pagi saya tidak bertemu dengan mereka, rasanya agak berbeda, hhmm seems like I miss those smiles dan rasanya aneh kalau ga ketemu mereka. They are strangers, but they share the best smile they have to youuu, so nice :). Bahkan orang-orang yang notabene, yang memang ada di sekitar kita, kita temui setiap hari, jarang share senyum mereka ke kita. Mungkin kolega, atasan, teman, yang anda temui setiap hari, jarang senyum sama anda. Berikut ini adalah daftar orang-orang tersebut:
  1. Seorang Bapak Loper Koran. Saya bertemu dia hampir setiap hari. Dia berjalan kaki, membawa setumpuk besar koran. Koran nya hanya dibawa-bawa, sering ngebayangin, pastinya koran-koran itu berat banget. Biasanya kami berpapasan dan saling lempar senyum. Udah, gitu doang, paling cuma dua atau tiga detik. He didn't say a word, just smile. And it comforts me. Kalau lagi buru-buru, dan wajah tampak tegang, dari jauh Bapak ini sudah senyum-senyum sama saya, seakan-akan ngerti kondisi saya, hehehe.
  2. Tukang Ojek di bawah Jembatan Penyebrangan. Nah, kalo yang ini, sering banget menawarkan jasa ojek gratis, misalnya dia lewat searah dengan saya, pasti nawarin bareng. Tapi saya selalu nolak, I'm just afraid that people will think that he is my bf. Hahahaha. Ga tau deh motivasi nya apa untuk ngasih jasa ojek gratism sejauh ini sih saya selalu menolak, apakah karena dia emang suka godain, centil-centil ga jelas gitu atau gimana. I don't care. Yang penting sejauh ini dia sopan sama saya, dan suka share senyum gratisnya sama saya. Dan entah kenapa, kalau saya pulang malem, dan ketemu dia di daerah situ, saya ngerasa aman aja. Hhhmm I think he know how to threat a girl. Hehe. Lu sopan, gw sopan, lu colek, gw bacok. Hahaha ga gitu juga lahh..
  3. Seorang Penjual Tisu di atas halte busway. Kalau bapak ini, senyumnya suka malu-malu. Suka sumringah gimana gituu. Setelah saya sekali beli tisunya, baru dia tersenyum lebar. Walaupun kadang lagi ga butuh tisu, ya saya beli aja, karena senyum nya lebar sekali sama saya. Hehe. Jadi inget pepatah Cina, lupa sih kata-kata pastinya gimana, tapi intinya: Kalau elu susah senyum, mending jangan jualan deh. Nah itu salah satu strategi marketing juga tuh, iya kan? Hehe. Hhhmmm jadi kepikiran tagline untuk suatu brand misalnya: "We serve you with smiles." Hihihihi..
  4. Seorang Mbak yang suka balapan lari sama saya di halte busway Senen. Suka ketemu Mbak ini di rush hour, jam-jam udah telat ngantor. Sepertinya dia satu wilayah perkantoran dengan saya. Selalu deh, kalau ketemu dia itu pas saya lagi lari ngejar biar bisa masuk busway. Pas udah di dalam busway, biasanya kita saling senyum. Kira-kira arti senyumnya: sama-sama lega bisa masuk busway, daripada nunggu lagi, bisa kira-kira 15 menit. Lucunya, kalau lari tuh dia selalu ga mau kalah dari saya, hahaha.
  5. Seorang Mas Berbaju Batik. Biasanya saya ketemu kalau lagi di dalam busway. Hari batik untuk kantor itu kan biasanya hari Jumat yah. Tapi kalau mas ini beda lhooo. Everyday he wears batik, and he has a lot of kind of batik I think. Setiap ketemu dia, selalu pake batik yang beda-beda. Im wondering if he comes from Solo or Pekalongan? Hehehe. Or maybe he sells batik? :p Ga penting lah, yang pasti Mas ini juga punya senyum yang keren. Senyum ala eksekutif muda gitu. Penuh percaya diri dan menawan. Over confidence malah sometimes. Tapi yang pasti, dia mau share senyumnya sama saya. It's nice, dibanding ketemu sama Mbak-mbak yang suka jutek ga jelas gitu kalau di busway.
  6. Bapak Penjual Sate Padang di bawah Jembatan Penyebrangan. Saya biasanya ketemu dengan Bapak ini sepulang kantor, setelah turun dari busway. Tempat tongkrongannya sama kayak tukang ojek. Bapak ini juakan sate padang kalau malam. Selalu menanti dipinggir gerobaknya dengan senyum. Jarang sekali ia berbicara. Logat Padang nya sangat kental. Tapi dia sangat ramah. Sering sekali, kalu bt dan capek sepulang kerja, ketika melihat senyum Bapak itu, dan membalas senyumnya, membuat saya berpikir: mungkin dia mengalami hari yang lebih berat dari saya. Usia setua itu harus berjualan hingga jam 12 malam. Sering saya lewat, lapak sate padangnya sepi pembeli. Tapi dia tetap dan terus tersenyum. When I'm feeling it is so difficult for me to smile, then I remember him. I have no reason not to smile.
Strangers, but I'm familiar with their smiles. Smile: simple but strong. Have a nice day! Start with having a nice smile.. :)

to see sanother blog post,
please kindly visit:
www.tirzamelinlumenta.blogspot.com

No comments: